twitter
rss

Eksistensi ilmu tasawuf sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW, akan tetapi mulai berkembang pesat pada zaman ulama salaf yang mana pada sa’at itu banyak ulama yang mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka melakukan usaha-usaha yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan mensucikan diri dari cinta dunia (hubbud dunya). Jadi pada waktu itu konsep tasawuf sudah berkembang walaupun belum dipatenkan sebagai ilmu tasawuf. Dan pada akhirnya ilmu tasawuf berkembang pesat di seluruh penjuru dunia dan lahirlah banyak tarikat seperti sekarang ini yang tidak lain berorientasi pada pendekatan diri kepada Allah SWT.

Tasawuf merupakan usaha membangun manusia dalam hal tutur kata, perbuatan, serta gerak hati, baik dalam skala kecil yaitu pribadi ataupun dalam skala yang lebih besar dengan menjadikan hubungan kepada Allah SWT sebagai dasar dari semuanya itu. Atau dengan kata lain tasawuf merupakan jalan menuju kedekatan kepada Allah SWT dengan cara melepaskan diri dari segala sesuatu yang hina dan rendah dan berpegang teguh pada sunnah Rasululllah SAW.[1]

Jadi jiwa tasawuf sudah selayaknya harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim. Dengan bertasawuf seorang muslim akan berusaha untuk selalu dekat dengan Allah SWT tanpa melupakan kehidupan dunianya. Dengan demikian akan tercipta keseimbangan antara hablum minallah (vertikal kepada Allah SWT) dan hablum minannas (horizontal dengan sesama makhluk Allah SWT). Karena tujuan pokok hidup manusia adalah bahagia dunia terlebih akhirat (sa’idun fiddunya wa sa’idun fil akhiroh).




Kata tasawuf mulai dipercakapkan sebagai suatu istilah sejak akhir abad ke-2 Hijriyah. Sejak zaman itu hingga sekarang kajian tentang asal-usul kata sufi belum pernah mendapatkan kesepakatan dari para ahli. Bahkan para ahli tasawuf sendiri masih berbeda pendapat mengenai asal mula kata sufi ini. Ada yang berpendapat, bahwa kata sufi berasal dari kata shafw, artinya bersih atau shafa,artinya jernih. Ada pula yang mengatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata shuffah, yaitu nama suatu kamar di samping masjid Rasulullah SAW di kota Madinah.[1]

Ada sebagian ahli tasawuf yang berpendapat bahwa sufi berasal dari kata tashowwafa –yatashowwafu – tashowwufan, yaitu fi’il madli dari tsulasi mazid khumasi dari fi’il tsulasi yang mendapat tambahan ta’ pada permulaannya dan mendapatkan syiddah pada ‘ain fi’ilnya. Sedangkan tsulasi mujarrad dari lafadh tasowwafa adalah shoofa yang artinya banyak bulu.[2]

Perbedaan asal kata sufi ini telah dibahas lebih lanjut oleh syekh Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, bahwa perbedaan tentang asal kata sufi yang beraneka ragam itu disebabkan adanya kata ini sebagai kata nisbah kepada sesuatu. Misalnya kata Quraisy (orang Quraisy) dan sebagainya.[3]

Untuk mengetahui secara jelas kata-kata sufi, asal kata dari tasawuf yang pertama kali dipakai oleh seorang Zahid yang bernama Abu Hasyim Al Kufi, maka perlu dikemukakan teori-teori sebagai berikut:

  1. Ahlus Shuffah

Yaitu orang-orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Makkah ke Madinah dan karena kehilangan harta, maka berada dalam keadaan miskin dan tidak mempunyai apa-apa. Mereka tinggal di Masjid Nabi dan di atas bangku batu dengan memakai pelana sebagai bantal. Pelana itu disebut Shuffah. Kemiskinan AhlussShuffah di sini berarti baik dan mulia. Sifat tidak mementingkan kedunniawian dan baik serta mulia merupakan sifat kaum sufi.[4]

  1. Shof

Kata “Shof” dianalogikan sebagaimana orang yang shalat di shof pertama yang mendapatkan kemuliaan dan pahala yang lebih dari shof-shof yang lain. Demikian juga orang sufi yang selalu dimuliakan oleh Allah SWT dan diberikan pahala.[5]

  1. Shufi

Kata “Shufi” artinya suci. Seorang sufi adalah orang yang disucikan dan kaum shufi adalah orang – orang yang telah mensucikan dirinya melalui latihan berat dan lama.[6]

  1. Shophos

Shopos merupakan bahasa Yunani yang artinya hikmat. Orang sufi tidak lepas dari hikmat.[7]

  1. Suf

Artinya kain yang dibuat dari bulu yaitu wol. Orang- orang sufi selalu mengenakan pakaian dari bulu kasar atau wol. Pada waktu itu kain wol yang dipakai sebagai simbol kesederhanaan dan kemiskinan. Kaum sufi sebagai golongan yang hidup sederhana dalam keadaan miskin, tetapi berhati suci dan mulia, menjauhi memakai hal-hal yang mewah.[8]

Pada hakikatnya, selain arti secara lughot di atas, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Prof.Dr. H. Abu Bakar Aceh bahwa tasawuf juga dapat diartikan “mencari jalan untuk memperoleh kecintaan dari Allah SWT dan kesempurnaan rohani dengan menjalani kehidupan sufi yang selalu tekun beribadah dan jernih, bersih jiwa dan hatinya, ikhlas karena Allah SWT semata”.[9]


Pokok pokok ajaran tasawuf dan tujuanya :

>> siapa yang mengenal dirinya pasti akan mengenal tuhannya.

>> makrifat adalah tujuan tasawuf.

>>Tiga tahap menuju makrifat :

1. Takhalli (pengosongan ), yaitu dikosongkanya pengaruh nafsu setaniah dari diri pelaku tasawuf.

2. Tahalli (mengisi atau menghias), yaitu mengisi hati dengan nur illahi, sehingga diri terhias degan amal yang baik,

3. Tajalli (terbuka atau tersingkap) , yaitu terbukanya hijab pengenalan akan Allah SWT.

Pandangan lain tujuan tasawuf adalah mendakatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan, sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati dan rohnya dapat bersatu dengan roh Tuhan. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah:

Pertama tuhan bersifat rohani maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh, bukan jasadnya.

Kedua, Tuhan adalah Maha Suci, maka yang dapat diterima tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada tuhan melalui penyucian rohnya.


Pada intinya tasawuf adalah suatu jalan untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT untuk mencari keridhaan-Nya dengan meninggalkan kepentingan nafsu kediriannya dan menghapus nafsu tercela dengan bimbingan cahaya-cahaya dan pengetahuan. Sedangkan sumber pokok ilmu tasawuf adalah Allah SWT, Al Quran, Rasulullah SAW, dan Al Hadist. Akan tetapi dari sumber pokok tersebut lahir sumber-sumber lain seperti ijma’ sufi, ijtihad sufi, qiyas sufi, nurani sufi, dan amalan sufi.

Keberadaan tasawuf tidak hanya ada begitu saja tanpa kandungan dan tujuan. Tasawuf memiliki empat kandungan pokok, yaitu metafisika, etika, psikologika, dan estetika. Sedangkan tujuan dari bertasawuf adalah mendakatkan diri sedekat mungkin dengan Allah SWT sehingga dia benar-benar ma’rifatullah dan manjadi insan kamil.

0 komentar: